/ Berita / External News

November 2012

Juli 2012

Mei 2012

Maret 2012

Februari 2012

Februari 2011

Januari 2011

Agustus 2010

April 2009

MENYELUSURI LADANG GANJA TERSEMBUNYI DI ACEH

REPUBLIKA.CO.ID, Dua pahlawan nasional yang dikenal gigih melawan Penjajah Belanda, Teuku Chik Di Tiro dan Teuku Hasan Di Tiro, namanya terukir pada batu nisan di Desa Meureu, Indrapuri, Aceh Besar. Kedua jasad mereka terkubur di makam yang dikelilingi batu marmer merah dan pernah menjadi tempat pesta ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Desember setahun lalu.

Lebih dari satu kilometer sebelah barat keduanya tumbuhlah tanaman ganja dengan ketinggian mulai 1,5 hingga tiga meter. Tanaman bernama latin cannabis sativa itu berjejer rapih diatas lahan sekitar tiga hektar. Pinggiran kebun tersebut dijaga kawat berduri. Letaknya sekitar 50 meter dari jalan yang dilewati manusia. Dari lahan datar, seseorang harus berjalan menurun dan melewati kali dengan air jernih yang menampakkan dasar bebatuan.

Di pinggiran sungai itu terdapat sebuah selang plastik dengan diameter sekitar 15 sentimeter memanjang hingga seratus meter. “Selang ini biasa dihubungkan dengan diesel kecil untuk mengalirkan air ke ladang ganja disana,” jelas Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Brigjen Benny Jozua Mamoto, kepada Republika Jumat (20/7).

Ladang ganja tersebut dinilainya jauh dari jangkauan masyarakat umum, karena sengaja ditanam di tempat terpencil. Jarak ladang tersebut dari jalan utama, yaitu Jl Raya Aceh-Medan, sekitar lima kilometer. Dari Banda Aceh menuju ladang tersebut membutuhkan waktu tempuh sekitar 60 menit. Jarak tempuh sekitar 50-60 kilometer.

Itu bukan satu-satunya ladang ganja yang ditemukan aparat gabungan BNN dan Polda Aceh. Mereka juga menemukan ladang ganja seluas delapan hektar di sekitar wilayah Lampeuna seluas delapan hektar. Yang terluas berada di Lamteuba mencapai 13 hektar. “Total semuanya sekitar 24 hektar,” papar Benny.

Rata-rata satu hektar berisi 10.000 pohon ganja. Diprediksi, tiga ladang ganja ini mampu memproduksi 240 ribu batang tanaman ganja. Setiap satu hektar menghasilkan 1.500 Kg Ganja Kering. Semua ladang ganja ini diperkirakan menghasilkan 36 ton ganja kualitas satu sekali panen.

Benny menyatakan ladang ganja tersebut sangat terurus. Tanaman tersebut diberi pupuk, kemudian dialirkan air. Kondisi berbeda dinilainya terjadi di daerah penghasil ganja lainnya, seperti Mandailing Natal. Ganja di Kabupaten Sumatra Utara itu ditanam diatas Bukit Sihite yang jalurnya sulit dilewati. Ganja disana ditanam secara liar, tanpa diberikan pupuk maupun dialirkan air.

Dari asumsi harga, satu kilogram ganja kering di Jakarta dijual Rp 2,5 juta. Diperkirakan ladang tersebut mampu menghasilkan uang hingga Rp 80 miliar sekali panen. Menyusuri Ladang Ganja Tersembunyi di Aceh.

Penemuan tiga ladang ganja di Aceh bermula dari kegelisahan aparat terhadap banyaknya ganja yang lolos dari pemantauan. Data Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia dan BNN menjelaskan Ganja yang tidak berhasil disita mencapai 241,8 ton pada 2011. Estimasi kebutuhan pasar ketika itu mencapai 487 ton. Ganja yang disita berjumlah 245,2 ton.

BNN kemudian menindaklanjuti hal itu dengan melakukan penyelidikan. Tim yang dipimpin oleh Direktur Tindak Kejar BNN, Komisaris Besar Jan de Fretes, diterjunkan ke lapangan bersama Aparat Polda Aceh. Mereka semua bekerjasama dengan masyarakat sekitar.

Aparat gabungan menyisir satu per satu ladang ganja di Indrapuri, Lamteuba, dan Lampeuna. Saat berjalan secara diam-diam ke ladang di Lampeuna seluas delapan hektar, aparat menyaksikan si pemilik ladang, Sayuti (38), sedang melihat-lihat ladang tersebut bersama seorang anak buahnya.

Personel gabungan menundukkan badan. Mereka berjalan dibawah tanaman ganja yang menutupi tinggi badan mereka. Sayuti tiba-tiba memalingkan wajahnya ke sebuah deretan tanaman ganja yang terlihat bergerak-gerak. Dia melihat ada kepala seseorang di balik tanaman tersebut. Dia langsung berlari bersama anak buahnya.

“Kita kejar keduanya. Sayuti kita tangkap. Satu lagi menghilang,” jelas Direktur Narkoba Polda Aceh, Komisaris Besar Dedy Setyo Yudho, saat dihubungi, Jumat (20/7). Sehari-hari dia mengaku bekerja sebagai petani hutan. Pekerjaan tersebut dinilainya kurang menghasilkan sehingga dia nekat menanam ganja. Sayuti kini mendekam di tahanan Direktorat Narkoba Polda Aceh.

Dedi menjelaskan tersangka menanam ganja di kawasan hutan lindung. Sayuti dinilainya menanam ganja disana dengan cara membabat ilalang di kawasan hutan lindung. Kemudian menggantinya dengan tanaman ganja. Ladang milik Sayuti

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>